Postingan

Menampilkan postingan dengan label Istilah NS

WARDATAN

Gambar
WARDATAN : Berbanjaran 55:37. Ayat suci ini menyatakan bahwa ketika tatasurya ini dibentur comet maka dia terseret berbanjaran serupa benda gas, dan memang demikian keadaan tatasurya-tatasurya yang terseret menjadi ekor comet. Istilah itu sehubungan dengan WARADA berarti “menjurus” 21:99, 28:23, dengan WAARIDU berarti “yang menjurus” 12:19. 19:71, 21:98; dengan WIRDU berarti “jurusan” 11:98, 19:86; dan dengan WARIID berarti “urat leher” atas polongan leher 50:16.

WADDA

Gambar
WADDA : Mengharapkan 2:96, 2:105, 2:109, 2:266, 3:30, 3:69, 4:42, 4:89, 8:7, 333:20, 58:22 , 60:2, 68:9, 70:11 maka ayat 15:2 menyatakan bahwa orang–orang kafir berharap untuk jadi orang-orang lslam, bukanlah WADDA dalam ayat suci itu berarti “menyesali diri” Istilah itu sehubungan dengan WUDDU berarti “rasa Pengharapan” 19:96; dengan WADUUD berarti “hubungan pengharapan” pada ayat 4:73, 5:82, 29:25, 30:21, 42:23, 60:1, 60:7.

HAWAA

HAWAA :  Jatuh 2:87, 5:70, 20:81, 53:1, 53:23, sehubungan dengan HAWAA berarti “kejatuhan” 4:135, 7:176, 18:28, 20:16, 25:43, 38:26, 45:23, 53:3, 79:40; dengan AHWAA berarti “jatuhkan” 53:53; dengan HAWAA ILAA berarti “tertarik” 14:37; dengan HAWAA BI berarti “terbangkan” 22:31; dan dengan HAAWIYAH berarti “yang menarik jatuh 101:9 yaitu surya api besar sebagai pusat orbit dan yang selaku menarik jatuh.

Menyembah

       Dalam Alquran, " Worship disebut dengan “ IBADAH ” verb-nya ‘ ABADA berarti " menyembah ". Dan " Prayer " disebut dengan DU'AA-U , verb-nya DA'AA berarti " memohon " atau " menyeru ’.         Sementara itu, "pemujaan" disebut dengan SITRU sebagai tercantum pada Ayat 18:90. Ada orang yang menjadikan surya sebagai Sitru-nya, dan ada yang menyembah thagut dan jin , dan ada yang sujud untuk Surya dan sebagainya seperti termuat pada Ayat 5:160, 27:24, 34:41, dan 39:17, tetapi Alquran tidak pernah memakai istilah Shalat kecuali ditujukan pada ALLAH saja.         Sehubungan dengan ini dan cara khusus yang harus berlaku untuk Shalat maka istilah ini haruslah diartikan dengan Shalat juga, tidak mungkin dengan istilah lain.

shalat

        Shalat atau Shalaah adalah istilah khas tercantum dalam Alquran , abstract noun dari verb Shalla , dan orang-orang yang melakukannya disebut Mushalluun , termuat dalam Ayat 70:22, 74:43 dan 107:4. Sementara pusat tempat melakukannya disebut Mushalla tertulis pada Ayat 2:125.        Istilah Shalat itu sendiri banyak sekali kita dapati dalam Alquran, yaitu pada Ayat 2:3, 2:43, 2:45, 2:83, 2:110, 2:153, 2:177, 2:238, 2:277, 4:43, 4:77, 4:101, 4:102, 4:l03, 4:142. 4:162, 5:6, 5:12, 5:55, 5:58, 5:91, 5:106, 6:72, 6:92, 7:170, 8:3, 8:35, 9:5, 9:1l, 9:18, 9 :54, 9:71, 9:103, l0:87, 11:87, 11:114, 13:22, 14:31, 14:37, 14:40, 17:78. l7:l10, 19:31, 19:55, 19:59, 20:14, 20:132, 21:73, 22:35, 22:41, 22:78, 23:2, 24:37, 24:41, 24:56, 24:58, 27:3, 29:45, 30:31, 31:4, 31:17, 33:33, 35:18, 35:29, 42:38, 58:13, 62:9, 62:10, 70:23, 73:20, dan 98:5.        Sebagai singular , maka ...

PETUNJUK

NUUR Ù†ُÙˆْرُ Petunjuk dari ALLAH, 4:175, 5:15, 5:44, 5:46, 6:91, 7:157, 9:32, 24:40, 39:22, 42:52, 61:8. 64:8, maka yang mendapat petunjuk hanyalah yang dikenai petunjuk ALLAH. Dalam hal ini ALLAH selaku pusat petunjuk yang meluas ke segala jurusan, karenanya petunjuk itu dinamakan NUUR.

KITAB

KITAAB Ùƒِتَابُ Kitab, atau ketentuan, lihat istilah KATABA di atas. KITAAB yang berarti "kitab" tercantum pada ayat 2:2, 2:79, 7:52, 7:169, 35:32, 42:14, 46:30, dan lain-lain,jamaknya ialah KUTUBU pada ayat 34:44. KITAAB yang berarti "ketentuan" termuat pada ayat 17:14, 19:12, 19:16, 19:51, 22:70, 23:62, 30:56, 34:3, 35:11, 39:23, 57:22 dan lain-lain, jamaknya ialah KUTUBU tercantum pada ayat 2:285, 21:104, 66:12, dan 98:3. Sementara itu KITAAB pada ayat 27:28, berarti "surat ketetapan, dan KITAABUN HAFIIZH pada ayat 50:4 berarti "ketentuan yang menjaga". Dan istilah IKTATABA pada ayat 25:5, berarti "menulis"; begitu pun istilah MAKTUUBAN pada ayat 7:157, berarti "yang tercantum" atau "yang tertulis"

MENJAGA

BAARAKA بَارَÙƒَ Menjaga, atau memberkahi, 17:1, 21:71, 21:81, dan lain-lain. Maka BARAKAAT adalah :Penjagaan atau barkah”. 7:96, 11:48 dan lain-lain. Muhammad dijaga dengan Mar’a atau Neutrino yang mengitarinya sewaktu Mi’raj Muhammad hingga dia tidak kehabisan udara untuk bernafas di angkasa bebas. Bumi diberi berkah dengan Mar’a atau Neutrino yang mengapung tinggi hingga terbentuklah lapisan ionosfir yang semakin tebal mengakibatkan Bumi ini semakin sejuk.

TRANSIT PLANEET

ZHULLAH ظُÙ„َّØ©ُ Transit Planet, 7:171, 26:189 atau beradanya suatu planet di atas orbit planet lain setantang dengan Surya yang diorbit. Waktu itu berlaku pembesaran radiasi Surya kepada planet yang dilintasi, hingga menimbulkan berbagai bencana alam. Diketahui bahwa berat Bumi ini sekira 200 trilliun ton maka sekuat itu pula tenaga magnet Surya menahan planet ini dalam orbitnya hingga tidak terpelanting jauh. Sekiranya Jupiter yang diketahui 318 kali besar Bumi kebetulan melakukan transit di atas orbit Bumi otomatis pembesaran radiasi Surya berlipat ganda sampai 318 kali menimpa Bumi. Waktu itu biasanya berlaku sekira 11 tahun sekali. Bencana yang ditimbulkan ZHULLAH tersebut dipakai ALLAH untuk membinasakan masyarakat durhaka dinyatakan pada 11:83 jo. 26:89. Dan itulah radiasi atau SIJJIIL yang tercantum pada ayat 11:82. Lihat THIIN.

BUMI

ARDHU : Bumi-bumi atau bumi, jamak atau mufrad. Yang termuat 39:67 dll. Adalah jamak sebagai realisasi dari pada ayat 13:3 dan wujudnya sama dengan planet-planet pada ayat 65:12.

SURYA

NAJMU : Bintang 16:16, 53:1, 55:6, 86:3 yang maksudnya yaitu surya sebagai salah satu bintang. Sedangkan bintang-bintang lainya disebutkan dengan NUJUUM pada ayat 6:97, 7:54, 16:12, 22:18, 37:88, 52:49, 56:75, 77:8, dan 81:2. Dalam istilah lain disebutkan dengan MISHBAAH dan MASHAABIIH. MISHBAAH :   Bintang berapi 24:35, jamaknya MASHAABIIH berarti “bintang –bintang berapi” pada ayat 41:12 dan 67:5.

TATA SURYA

NUUR : Tatasurya atau planet-planet yang berada keliling surya tercantum pada 24:35, 39:69, 57:12, 57:19, 57:28, 66:8. Surya sebagai pusat berbentuk api besar, maka yang ada disekitarnya yaitu yang ada dalam daya tarik surya dinamakan NUUR. YAUM : Tatasurya 6:73, 9:36, 14:5, 32:5, 44:10, 45:14, dan 45:27, yaitu Tatasurya yang juga berputar di sumbunya sebagaimana bumi berputar. Lihat juga NUUR. YAUMAN :  Dalam satu tatasurya, 20:102, 20:104, bahwa di akhirat nanti akan tahulah manusia ramai tentang planet-planet yang sepuluh dalam tatasurya ini. YAUM :  hari di tatasurya 11:7, 41:9, 41:10, 41:12, yaitu berputarnya tatasurya ini 360 derajat selama 1.000 bulan Qamariah atau Lunar Year menurut ayat 22:47. Jamaknya ialah AYYAAM tercantum pada 7:40, 11:7, 25:59, 32:4, 41:10, 50:38.

SAMAWAT

SAMAWAAT : Planet-planet, 3:190, 13:2, 37:5, 42:29, 55:33, 65:12, dll. Semua istilah Samawaat dalam Al-Quran pastilah berarti planet-planet ditandai dengan dapat dipelajari penciptaannya, dapat dilihat dan tidak bertiang, berputar disumbunya hingga disana juga ada timur dan barat, tempat pembiakkan makhluk berjiwa, dapat didatangi dengan pesawat angkasa ultra modern, dan keadaan samawaat itu sama dengan bumi.

LOGIS

HAQ :  Yang logis, boleh diartikan dengan Yang Haq saja. Tetapi bukanlah HAQ itu berarti BENAR karena untuk istilah ini Al- Quran memakai SHADAQA,SHIDQU, SHADIQUUN, SHADIIQ ayat 17:81 menyatakan bahwa bilaman yang HAQ dating maka yang BATIL jadi lenyap, begitu pula ayat 2:121 menyatakan bahwa orang yang menganalisa kitab secara HAQ maka itulah yang akan beriman. Jika HAQ dalam kedua ayat itu diartikan dengan BENAR maka gagallah ketentuan Allah dimaksud, karena betapa banyak kebenaran telah datang tetapi yang batil masih berlaku, dan betapa banyak orang yang membaca kitab Allah dengan benar namun mereka masih kafir. Jadi istilah Haq harus diartikan yang logis, bahwa sesudah yang logis datang maka lenyaplah yang batil, dan yang akan beriman pada kitab Allah ialah orang yang menganalisanya secara logis, karena memang semua ketatapan Allah adalah yang HAQ atau yang LOGIS, 3:102, 4:122, 6:73, 6:141, 15...

TAQWA

TAQWAA :  Keinsyafan, 47:17, 49:3, 58:9, maka ITTAQA berarti menginsyafi, 2:183, 24:52, 73:17, dan Muttaquun berarti orang-orang yang insyaf, 2:177, 39:33, dll. Itulah sebabnya Allah memerintahkan manusia agar berpuasa pada siang hari bulan Ramadhan semoga menginsyafi keadaan diri betapa lemahnya tanpa kurnia dari Allah, bukan agar jadi takut sebagaimana pendapat orang-orang selama ini. Itu pula sebabnya dianjurkan saling berisik dengan kebaikan dan keinsyafan dan agar insyaf pada Allah yang kepadanya setiap diri harus kembali. MUTTAQUUN :  Orang-orang yang insyaf 2:177, 39:33, 77:40 dll. Berasal dari ITTAQA berarti “menginsyahi” 2:183, 24:52, 73:17 dll. ATQAA berarti “lebih insyaf” 49:13, 92:17. Lihatlah TAQWAA.

‘AALAMIIN

‘AALAMIIN :  Seluruh manusia, karena pada umumnya yang berakhiran dengan YAA NUUN atau WAA NUUN adalah yang berjiwa. Jadi bukanlah istilah itu berarti seluruh benda atau seluruh alam dimana termasuk batu dan tetumbuhan. Istilah ‘AALAMIIN tercantum ada banyak ayat diantarannya 21:107, 29:6, 29:6, 29:28, 44:32, 45:6 dll. Semuannya menunjukkan makhluk berakal, sehubungan dengan istilah ‘ALIMA berarti “mengetahui” 30:59, 41:3, dll.; dengan ‘ILMU pada 20:114, 27:66 dll.; dengan ‘ALLAMA berarti “mengajarkan” pada 2:102, 55:4, dll.; dengan ‘AALIM berarti “yang berilmu” pada 21:51, 29:43 dll.; dengan ‘ULAMMA-U pada 26:197, 35:28, dan sehubungan dengan ‘ALIIM berarti “yang mengetahui” pada ayat 40:2, 57:3, 58:7 dll.

FIDYAH

Orang yang sedang lemah pisik karena baru sembuh dari sakit, baik dia muda atau tua, lelaki atau perempuan, harus menunda puasa Ramadhannya pada hari-hari berikutnya jika dia sempat kuat kembali. Jika dia tetap lemah maka atasnya wajib memberi fidyah yaitu memberi makan seorang miskin untuk satu hari puasa Ramadhan yang dia tinggalkan. Tetapi wajib Shalat tetap berlaku baginya, baik sewaktu lemah ataupun waktu sudah kuat. Orang lemah ini tidak termasuk pada SAFAR pada Ayat 4/43 dan 5/6.

ASLAMA

ASLAMA : Masuk Islam, 2:112,3:83 dll. Sehubungan dengan “salam” keselamatan dan “sallama”, menyelamatkan pada 8:43. Masuk Islam berarti menyelamatkan diri di dunia dan di akhirat nanti pada Allah, caranya ialah mematuhi hukum yang diturunkan ALLAH.

GAIB

GAIB : Gaib juga diartikan karena tiada istilah lain yang cocok untuk maknanya. Ada dua macam yang dikatakan dengan gaib yaitu wujud. Allah dan Ruh; juga keadaan, seperti yang berlaku di zaman purkala, di akhirat nanti, atau yang kejadian di planet yang mengitari bintang lain. Gaib tercantum pada 5:109, 5:116, 9:78, dan 34:48. Gaib ialah gaib dan tidaklah tepat jika yang diartikan dengan “tak kelihatan” karena banyak wujud yang tidak kelihatan tetapi bukanlah dia gaib. Namun istilah GAYAABAH berarti “kegelapan” pada ayat 12:10.

WASHIILAH

WASHIILAH :  Penghubung 5:103, bahwa Allah tidak mengadakan penghubung antara DIA dan manusia begitupun sebaliknya, tetapi memang DIA mengutus Rasul-rasul untuk menyampaikan Firman-NYA. Istilah itu sehubungan dengan WASHALA berarti “sampaikan” pada ayat 13:21, 13:25, dan WASH-SHALA pada ayat 28:51; dan dengan WASHALA ILAA berarti “mencapai” pada 6:136, 11:70, 11:81, 28:35, dan 4:90.