Jumat, 22 Juni 2018

AGAMA

Kita melihat adanya pertentangan pendapat dalam memahami Ayat Suci ALLAH di antara masyarakat bertuhan, padahal kita tahu sebagaimana juga orang lain mengetahui bahwa semua Ayat Suci itu diturunkan oleh Tuhan yang ESA untuk tatahidup yang sama. Alquran, Injil dan Tawrat diturunkan oleh Pencipta yang satu, ketiga Kitab Suci itu memberikan ajaran yang sama, agama yang sama, hanya manusia juga menerimanya dengan sambutan berbeda. Dari itu timbullah berbagai nama dengan kepercayaan yang bertentangan, salah menyalahkan, saling mengrusak sesamanya.

Satu sebab menimbulkan akibat, dan akibat ini jadi sebab untuk hal lain selanjutnya, demikian pula kesalahan tanggapan tadi telah menyimpangkan aliran fikiran dari keredhaan ALLAH lalu timbullah aliran hidup yang hanya didasarkan atas kekuatan rasio semata pada mana bukannya Firman ALLAH jadi pedoman, terbentuklah bermacam-macam agama dengan kepercayaan masing-masing.

Rabu, 20 Juni 2018

Logika

Banyak manusia kini yang masih ragu tentang hidupnya. Satu dogma yang buta telah membawanya kepada satu aliran yang mengatakan hidup ini ada sendirinya tanpa Pencipta, semua benda2 angkasa itu dianggap terjadi sendirinya, begitu dirinya yang berketurunan. Tetapi semua itu timbul dengan sebab2 nyata yang telah digariskan ALLAH. 

Sebaliknya sejarah itu juga yang memang mengandung unsur2 Kausalita akan membawa manusia itu kembali kepada gejala fikiran yang wajar dimana dogma buta tak terpakai lagi karena memang ia menyesatkan dan membinasakan. Penyelidikan manusia tentang alam semesta dan tentang keadaan hidup dirinya akan semakin meningkat dengan pembukaan yang diizinkan, maka semuanya nanti akan bersatu pada logika konkrit dimana manusia terbagi dua antara yang patuh dan yang pongah.

Logika manusia kini sedang menjurus kepada KEESAAN dan KEKUASAAN ALLAH, disukai maupun dibenci oleh manusia itu sendiri, segala sesuatu berjalan dengan ketentuan ALLAH sesuai dengan Kausalita yang diberikan.

Selasa, 19 Juni 2018

Pembesaran Radiasi

Pecahan planet itu menimbulkan adanya meteorites yang berjatuhan sebagai batu yang kadang-kadang sangat merusak. Permukaan Bulan jadi bopeng tersebab meteorites yang berjatuhan itu dan batu-batu itu juga yang dipakai Allah untuk membinasakan kaum durhaka di zaman Luth di negeri Sodom dan Gomorah. Di samping batu-batu yang berjatuhan juga mereka dihantam oleh ledakan petir yang ditimbulkan Sijjil dari Surya, mereka musnah tanpa kesempatan untuk mengelak dan mendebat. Hal itu disebutkan pada ayat 11/82 dan 15/74. Sedangkan ancaman demikian senantiasa tersedia untuk setiap bangsa yang durhaka disebutkan pada ayat 11/83 dan hanya Allah yang dapat menentukan bangsa durhaka yang akan disiksanya di dunia kini dengan bencana itu.

Kaum Gajah di zaman sebelum kelahiran Muhammad s.a.w. telah dimusnahkan pula dengan Sijjil dari Surya tersebut ditambah dengan batu-batu yang berjatuhan, akibatnya maksud mereka untuk meruntuh Ka'bah di Makkah tak kesampaian. Hal ini dinyatakan pada ayat 105/4. Mereka musnah bagaikan debu kering karena kedurhakaan menentang agama Ibrahim yang sengaja diturunkan Allah untuk seluruh manusia.

Pembesaran Radiasi tergantung pada planet mana yang melakukan transit di atas orbit Bumi, umumnya berlaku tujuh kali dalam setahun karena tujuh pula planet yang mungkin melakukan transit tadi. Planet-planet itu iyalah Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptune, Pluto dan Muntaha.

Kini orang telah dapat mengetahui dari penyelidikannya bahwa Jupiter adalah sebesar 318 kali besar Bumi dan Saturnus 95 kali. Kalau salah satu planet itu mengadakan transit di atas orbit Bumi maka berlakulah pembesaran radiasi atas permukaan Bumi dan menimbulkan gempa, ledakan gunung berapi, badai dan topan, gelombang pasang atau gelombang panas dan sebagainya. Utama lagi jika waktu itu salah satu atau keduanya, Bumi dan planet itu, berada dalam titik Perihelium orbitnya yaitu ketika sedang dekat pada Surya, waktu itu Surya sedang sangat giat dalam hubungannya dengan planet itu. Dan lebih istimewa lagi kalau Jupiter bersama Saturnus melakukan double transit di atas orbit Bumi, yaitu kedua planet itu kelihatan dempet terhadap Surya, dan Bumi kita sedang berada di tengahnya, maka ketika itu akan terjadilah bencana besar, tetapi hal itu hanya berlaku sekali dalam 1.000 bulan menurut ayat 97/3, yaitu setelah 7 kali orbit Jupiter dan sekali jalan, setelah 3 kali orbit Saturnus keliling Surya, sekira satu kali dalam 83 tahun Qamariah atau 81 tahun Syamsiah.

Dan sebagai contoh orang dapat memperhatikan bahwa atmosfir Bumi terganggu satu kali dalam sebelas tahun, hal ini berlaku di sepanjang zaman. Sebabnya yalah karena satu kali dalam 11 tahun pula Jupiter berada pada titik Perihelium orbitnya, waktu mana aktivitas Surya sangat membesar. Ketika itu Bumi lewat di tengah maka karenanya planet ini mengalami tekanan pembesaran radiasi, tepat atau tidaknya tergantung pada posisi Bumi waktu itu. 

Pada tahun 1946 dan 1957 Masehi pernah berlaku gangguan gelombang radio di seluruh muka Bumi, dan sebelas tahun kemudian yaitu tahun l968 radiasi Surya membesar lagi, cuaca amat buruk hingga tanah Makkah mengalami banjir, selaku peristiwa yang dianggap aneh. Dan sebagai bukti lagi, perhatikanlah Sunspot (kawah yang kelihatan pada permukaan Surya. Sebenarnya bukan kawah, tetapi gejolak Surya yang lidah apinya kelihatan agak redup). Satu Sunspot bergerak keliling Surya selarna 11 tahun pula. Adakalanya kelihatan lebih nyata dan kadangkala agak kabur, ini adalah karena hubungan Surya dan Jupiter yang saling bertarikan, maka Sunspot itu selamanya menunjukkan ternpat di mana Jupiter berada waktu itu dalam orbirnya. Waktu planet itu berada pada titik Periheliumnya jelaslah kelihatan Sunspot itu dan ketika dia berada pada titik Apheliurnnya kaburlah kelihatan kawah tersebut. Bersamaan dengan itu banyak lagi Sunspot kecil yang kelihatan di permukaan Surya sebagai membuktikan saling menariknya Surya itu dengan planet-planet yang mengitarinya. Perhatikan maksud ayat 25/45.

Minggu, 17 Juni 2018

Doktrin Hidup

Alquran menamakan agama dengan istilah "dien", selain Islam sebagai satu-satunya agama yang diakui ALLAH ada lagi berbagai agama lain yang dianut oleh manusia dalam kehidupan. Dengan agama itu mereka menyusun masyarakat di mana berlaku hukum dan pengabdian, nyatalah bahwa yang dikatakan agama atau dien itu adalah pengaturan dan pengabdian.

Menurut pengertian umum yang dimaksud dengan agama adalah ajaran khusus yang datang dari Tuhan di mana dicantumkan hukum muamalah dan ubudiyah, sebaliknya ajaran yang berdasarkan pengalaman dan pemikiran dinamakan orang falsafah, doktrin atau ideology di mana tidak termasuk cara ubudiyah. Tetapi jika orang memperhatikan dengan seksama akan didapatlah peramaan antara agama yang datang dari Tuhan dan doktrin yang disusun sendiri oleh manusia, pada keduanya terdapat unsur pengaturan. Jika agama mengandung unsur pengabdian yang harus dilakukan secara langsung maka doktrin juga mengandung unsur itu yang dilakukan secara tidak langsung. Suatu pengaturan haruslah dilaksanakan dengan kepatuhan dalam kehidupan bersama, maka kepatuhan itu sendiri adalah bahagian dari pengabdian, bagaimana pula suatu doktrin dapat berjalan lancar jika penganutnya tidak mengabdi pada pengaturan dalam doktrin itu.

Kini teranglah bahwa setiap doktrin atau sesuatu yang dinamakan falsafah hidup adalah agama dalam pengertian sebenarnya. Sebagai bukti orang dapat memperhatikan betapa banyaknya agama yang dianut dan berkembang di antara manusia Bumi, sebahagian besar tidak didasarkan atas Kitab Suci yang turun dari Tuhan dan tidak mengandung garis hukum hidup yang diredhai-NYA. Hal itu telah berlangsung semenjak purbakala di zaman prehistory bahwa ada golongan manusia yang melakukan penyembahan dengan cara tertentu didasarkan atas hasil pengalaman dan pemikiran semata, setengahnya dipusakai dari nenek moyangnya turun temurun.

Walaupun cara hidup begitu adalah tradisionil, adat kebiasaan yang dipusakai, setengahnya didasarkan atas dugaan belaka, tetapi semua itu adalah agama, atau doktrin. Berlakulah pengabdian terhadap pembesar, dewa, patung yang dianggap berkuasa. Disebut juga komunisme sebagai satu falsafah hidup di mana dinyatakan tuhan yang gaib itu tidak ada: seluruh benda alam ini mempunyai daya atau kekuatan. Kekuasaan hanyalah berada pada orang yang dapat memanfaatkan tenaga benda-benda itu :

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُم بِذَ‌ٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾

45/24. Dan mereka berkata : tidaklah semua ini malah kehidupan kita di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidaklah yang membinasakan kita hanyalah waktu. Padahal tiadalah bagi rnereka atas yang demikian itu suatu ilmu malah mereka hanya menduga-duga.




Kita percaya bahwa akan ada pertanyaan : bagaimana sesuatu ideology dinamakan agama padahal diantaranya tidak ada terkandung unsur iman selaku unsur utama bagi sesuatu yang dinamakan agama ?