PENGETAHUAN DAN ALAM GAIB
Ada beberapa tahap dalam pengetahuan dan beragama. pada tingkat awal atau bawah, orang dihrskan menerima dulu saja, seperti "dogma" atau "keyakinan buta", tapi tak untuk selamanya, karena pada tingkat lanjut, akhir atau atas, orang diharuskan mengerti secara nalar atau beralasan, berlandaskan pada pengetahuan dan ilmu.
Misalnya seperti beribadah, anak-anak tak perlu tahu persis, kenapa begini-begitu, pokoknya percaya saja dan ikuti saja, baru setelah dewasa dijelaskan. Rukun iman adalah hukum fiqih atau hukum syar'i, syari'at, alias syarat, hukum rendah dalam hukum Islam, hanya setingkat lebih tinggi daripada fatwa ulama. Malaikat adalah makhluq berbasis cahaya, Allah ciptakan untuk maksud khusus. Cahaya adalah energi, objek fisika, bukan sesuatu yang gaib; dimana muncul-menghilang dan datang-pergi malaikat diungkapkan secara jelas dalam Al Qur`an dan dapat dijelaskan oleh fisika.
Pengetahuan untuk memahami alam gaib adalah segala pengetahuan telah dibangun manusia selama berabad, kini dikenal sebagai sains dan teknologi. Pengetahuan dasarnya adalah logika, matematika, fisika, kimia, dst, hingga teknologi rekayasa. Bagi para ilmuwan dan teknolog yang menguasai betul sains dan teknologi, tak ada yang gaib dan tak dapat dipelajari dan dipahami didalam alam ini.
Allah memberikan manusia pengetahuan seluas mungkin agar manusia dapat mengenal Maha Penciptanya. Berarti, jika ilmu pengetahuan manusia itu dapat mengenali Maha Penciptanya, melalui berbagai tanda-Nya, maka berarti ilmu pengetahuan tersebut tentu dengan mudah dapat mengetahui dan memahami keberadaan seluruh makhluq, karena makhluq derajatnya jauh dibawah Al Khaliq, sedangkan manusia adalah makhluq edisi mutakhir dan paling sempurna, sementara makhluq lain, mencakup alam, malaikat, jin, dst, derajatnya jauh dibawah manusia, dan mereka tak memiliki kemampuan dimiliki manusia.
Banyak hal yang dianggap orang gaib, tapi sejauh ini, tapi pada dasarnya tak ada yang tak dapat dijelaskan secara ilmiah. Hanya saja belum semuanya tuntas, karena sains dan teknologi masih terus berkembang. Makin lama makin banyak kegaiban akan dapat diungkapkan. Jadi, gaib itu relativ bagi tiap orang, begantung sejauh mana pencapaian ilmu pengetahuan seseorang.
Dalam fisika, energi tak gaib, termasuk angin atau udara bergerak, tapi sesuatu kenyataan, dapat diukur, dan pola dinamikanya dapat dilihat via alat seperti oskiloskop, dan lain sebagainya. Virus, bakteri, kuman, dan mikro-organisme lain, tak gaib, hanya saja terlalu kecil untuk dapat dilihat mata, tapi bisa dilihat via mikroskop.
Jadi ghayib itu nisbi atau relativ untuk makhluq atau ciptaan. Ghayib mutlak atau absolut hanya Al Khaliyq, Allah, subhaanu Huu wa taa'aala, 'azza wa jalla, Tuhan Yang Maha Esa, sebagai Maha Pencipta, karena Dia mencakup penglihatan, tapi penglihatan tak mencakup Dia. Sedangkan seluruh ciptaan Dia, hanya gaib nisbi atau relativ atau nisbi. Gaib bagi yang belum sampai ilmunya, tapi tak gaib bagi yang sesudah sampai ilmunya.
Untuk mengindera yang gaib, Allah telah melengkapi manusia dengan akal dan ilmu, sehingga manusia dengan sains dan teknologi dapat membuat radio, telepon atau ponsel untuk berbicara jarak jauh, kamera, teleksop, televisi, perangkat telekonferensi untuk melihat jauh, mikroskop untuk melihat renik, telegraf dan fak untuk menulis jauh, SONAR dan RADAR untuk deteksi jauh, sepedamotor, mobil, trem, kapal-laut, kapal-selam, kapal-udara, pesawat-terbang untuk bergerak jauh dengan cepat, menyelam dan bahkan terbang, dan lain sebagainya.
Jadi perihal mengidera kegaiban bergantung pada sains dan teknologi manusia. Adakah makhluq lain mampu berkarya seperti manusia? Tidak! yang dibutuhkan manusia kini adalah ilmu dan teknologi untuk bikin perangkat sistem informasi dan komunikasi caggih.
Komentar
Posting Komentar