TANTANGAN DAKWAH

`als salaamu 'alay–kum, wa rahmatu–`allaahi, wa barakaatu–huu.

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّــــــهِ الرَّحْــــــمَنِ الرَّحِــــــيْم
الحمــد للــه والصــلاة والســلام علــى رســول اللــه وعلــى آلــه وصحــبه أجمعــين, أما بعد:

Saudara dan Saudariku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Memang sangat berat rasanya bagi seseorang dalam masyarakat terjajah untuk menyampaikan Risalat ALLAH secara ilmiah nyata dan menurut hukum islam, karena seringkali dihadapkan kepada tantangan bertangan besi.

Itulah yang menyebabkan Nabi Muhammad dulunya pernah meninggalkan kota kelahirannya berhijrah ke Madinah.

Tetapi orang-orang tabah tidak akan kecewa tersebab berbagai tantangan itu, mereka hanya takut pada ALLAH saja yang menghargai semua sikap dan perbuatannya untuk balasan dengan perhitungan sempurna.

Mereka yakin bahwa tindakan itu lebih baik dan terpuji lalu meneruskan dakwah Islamiah dengan perbuatan shaleh dan perhitungan benar. Tentang itu mereka didorong oleh Ayat 40/51 dan berpedoman kepada Ayat 3/139 yang masing-masingnya artinya sebagai berikut:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ١٣٩

3/139. Janganlah merasa lemah dan jangan dukacita, kamu lebih tinggi jika kamu beriman.

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ ٥١

40/51. KAMI akan menolong Rasul-rasul KAMI dan orang-orang beriman pada kehidupan dunia dan pada Hari berdirinya kesaksian (di Akhirat).

Mereka selalu berdakwah dan menerangkan segala sesuatu yang diketahui tentang Islam berdasarkan Ayat Alquran seperti tugas yang diwajibkan pada mereka sedapatnya menganjurkan agar para Da'i menyampaikan dan menganalisakan Firman ALLAH secara ilmiah sesuai dengan kesanggupan masing-masing, bukan menyampaikan cerita lain yang umumnya meragukan dan tidak pasti, kecuali sebagai bahan perbandingan.

Jadi para Da'i dan Muballig hanya diizinkan menyampaikan kandungan ilmu yang termuat dalam Alquran, baik yang Muhkamat atau yang Mutasyabihat.

Ketentuan ini berdasarkan pertimbangan bahwa:
✔ 1. Bahan-bahan keterangan selain yang termuat dalam Alquran umumnya dicampuri keraguan, belum tentu benar, dan sifatnya relatif.
✔ 2. Yang dianggap baik oleh seseorang belum tentu baik menurut sesungguhnya, sedangkan yang benar dan baik tanpa ragu adalah yang tercantum dalam Alquran sendiri.
✔ 3. Sumber keterangan yang disampaikan seringkali diragukan dan kebanyakannya dugaan belaka atau susunan manusia yang sebenarnya berlainan dari keadaan terjadi dulunya.
✔ 4. Banyak keterangan yang pernah disampaikan Muballig atau Da’i tidak dapat difahami oleh para pendengar, karena hanya bersifat dongeng yang tidak sesuai depgan capaian pemikiran.

Keterangan yang disampaikan Muballig selain Ayat Alquran, walaupun dengan maksud baik untuk kemajuan Islam, sebenarnya menimbulkan keraguan bagi pendengar luas pandangan dan yang mempunyai tanggapan berbeda, akhirnya mungkin merendahkan Islam sendiri.

Seringkali para Muballig menyampaikan sesuatu yang bersumber buku hikayat atau dongeng tentang kejadian di zaman sahabat Nabi dengan maksud menambah keimanan dan keyakinan para pendengar mengenai kekuasaan dan kebesaran ALLAH, tetapi mereka lupa bahwa cerita itu tidak mengandung nilai ilmiah bahkan sudah berulang kali diperdengarkan dan memuakkan orang.
Maka perhatian umum tentang tablig jadi berkurang hingga jumlah pengunjung semakin kecil, terdiri dari orang-orang tua yang hanya mengharapkan pahala bahwa menghadiri tablig agama adalah perbuatan yang diredhai ALLAH.

Sering juga para Muballig menyerukan agar orang-orang beriman mempertebal iman dan agar bertakwa, padahal mereka harus mengetahui bahwa untuk menjadikan orang lebih beriman dan takwa adalah tugas mereka dengan menguraikan dan menganalisakan Ayat-ayat suci secara ilmiah dengan mana mungkin timbul keyakinan pada hadirin. Semakin rasional uraian yang diberikan, akan semakin kuatlah keyakinan pendengar.

Ingatlah bahwa IMAN berarti “percaya,” TAKWA artinya "insaf," dan YAKIN berarti, “dapat kepastian.”

Maka para pendengar yang memang telah beriman hendaklah diberi keinsafan dan kepastian dengan fakta serta bukti nyata tentang kebenaran Ayat-ayat Alquran tentang mana dibutuhkan uraian ilmiah, itulah tugas para Muballig.

Jadi setiap Muballig harus tahu benar tentang sesuatu yang diterangkan dan menjelaskan sangkut-pautnya secara terperinci menurut logika dan kejadian.

Karenanya setiap Muballig tentulah orang berilmu pengetahuan tentang keterangan yang disampaikan, bukan hanya didasarkan atas pendapat Ulama ini, kata Pof. itu, teori Si Anu.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Over View

PERTUMBUHAN ILMU-ILMU ISLAM DI MADRASAH

(Nana Masrur) Kompetensi Dasar : Mampu Menguraikan Pertumbuhan Ilmu-Ilmu Islam di Madrasah Indikator : Madrasah dan Perkemb...