Yang Salah-Benar

Kehidupan mahluk berjiwa pasti diakhiri dengan kematian, kemudian ALLAH menghidupkan semua makhluk berjiwa untuk kedua kalinya, waktu mana setiap manusia diberi balasan sebanding dengan nilai usahanya pada kehidupan di dunia kini.

Kehidupan kedua itu berlaku di Akhirat yaitu pada Hari Kiamat di mana setiap diri akan hidup terus tanpa kematian lagi.

Mereka terbagi menjadi penduduk Surga dengan nikmat dan kebahagiaan besar, dan penduduk Neraka dengan penyesalan dan nista siksaan yang tak pernah berakhir.

Kedua kelompok itu akan mengalami keadaan yang tak berujung untuk selamanya, tentang mana manusia kini seharusnya mawas diri.

Kalau kehidupan kini berwujud konkrit di tempat yang konkrit, maka sesudah matinya di dunia kini, manusia akan dihiduphan kembali dalam keadaan konkrit dan juga di tempat yang konkrit seperti yang dulu pernah ditempatinya.

x

Monotheisme

Charger Phone
Falsafah hidup
yang mengandung aliran monotheisme, atau juga yang disebut agama TAUHID satu2nya yang menganduag kecukupan unsur untuk peningkatkan kemajuan. Unsur mana ialah: 
  1. Pengalaman yang historis. 
  2. Logika yang berdasarkan hukum kausalita. 
  3. Ayat2 suci yang diturunkan oleh super Ego, ALCHALIQ yang SATU termaktub dalam kitab suci yang terjalin tiga TAURAT, INJIL dan ALQURAN. 
Ketiga kitab itu mengandung rahasia2 ilmiah dan falsafah yang konkrit yang tak boleh dipisahkan. Aliran ini sebenarnya adalah Internationalisme dan Universil, maka orang2 yang sengaja atau tanpa sadarnya memisahkan ketiga macam kitab suci itu berarti telah melakukan suatu kekeliruan yang amat nyata, maka bukanlah ia menjalankan agama Tauhid tapi menantanglah dia pada ajaran Tuhannya yang amat dicintainya.

CARA BERPIKIR DAN MEMILIH PEKERJAAN KELIRU

Sebagian org berpikir utk menjadi pegawai negeri atau pejabat negara, meski gaji kecil tapi sedikit kerja, takan dipecat untuk pelanggaran sederhana atau secara umum dianggap pelanggaran wajar atau biasa padahal tidak, dan bukan untuk menjadi abdi masyarakat, dan berharap ditempatkan pada bagian "basah", bagian "pengadaan", posisi penting dalam tender dan proyek pemerintah, bisa melakukan korupsi, kolusi, dan konspirasi, penggelapan dan memeras pengusaha.


Tampaknya untuk penerimaan para mahasiwa di berbagai akademi pemerintahan, pegawai negeri, dan pejabat negara perlu bahkan musti ada perbaikan prosedur, "filtering," "psycho-test," "fit and proper test," agar bisa diperoleh "the right man on the right place." Tapi tampaknya dalam kenyataan perubahan ke arah perbaikan takan semudah demikian.

Kalau mau bekerja bebas dan banyak uang atau kaya, jangan jadi pegawai, tapi mempekerjakan diri-sendiri (self-employed), profesional atau penjual jasa keahlian dan keterampilan, pedagang, wirausahawan, pengusaha, dan penanam modal (investor).

TELADAN BAIK DAN TELADAN BURUK

DUA PASANGAN JAZAM BERLAWANAN


Yang dimaksud dengan jazam adalah peraturan, keputusan, kepastian, ketentuan, ketetapan, atau keyakinan teguh, tegas, dan pasti dan tiada keraguan padanya. Jadi tidak berdasarkan pada dugaan atau sangkaan. Dalam konteks ini, jazam dibedakan atas dua pasang, dimana sepasang-berpihak pada kesejatian atau kebenaran, sementara sepasang-lagi berpihak pada kepalsuan atau kekeliruan, dan dimana sepasang-berlandasakan pada dalil, sedangkan sepasang-lagi tak berlandasakan pada dalil. Adapun empat jazam ini adalah:
  1. ma’riyfat, identik dgn kepemimpinan benar dan baik.
  2. taqlid shahiyh, identik dgn kepengikutan benar dan baik.
  3. jahil murakkab, identik dgn kepemimpinan salah dan buruk.
  4. taqlid bathil, identik dgn kepengikutan salah dan buruk.

Krn ini meminjam istilah bhs Arab, penjelasannya adalah sbb.


  • Ma’riyfat (pengenalan, pemahaman, pengertian, pengetahuan, recognition, comprehension, understanding, knowledge) adalah jazam yang mufakat pada haq dan dengan berdasarkan pada dalil. Artinya, tindakan yg benar dan baik, dan beralasan dan berlandaskan pd kebenaran dan kebaikan. Ini adalah jalur diambil oleh para pemimpin baik, sbg pengemudi kendaraan bergerak ke arah benar.
  • Taqlid shahiyh (keikutsertaan benar, right follow) adalah jazam yang mufakat pada haq dan tanpa berdasarkan pada dalil. Artinya, tindakan yg benar dan baik, tp tanpa alasan, melainkan hanya krn ikut kpd yg benar dan baik. Ini adalah jalur diambil oleh para pengikut baik, sbg penumpang kendaraan bergerak ke arah benar.
  • Jahil murakkab (kebodohan beralasan, reasonable stupidity) adalah jazam yang tidak mufakat pada haq dan dengan berdasarkan pada dalil. Artinya, tindakan yg salah dan buruk, dan beralasan dan berlandaskan pd kesalahan dan keburukan. Inbi adalah jalur diambil oleh para pemimpin buruk, sbg pengemudi kendaraan bergerak ke arah salah.
  • Taqlid bathil (keikutsertaan salah, wrong follow) adalah jazam yang tak mufakat pada haq dan tanpa berdasarkan pada dalil. Artinya, tindakan yg salah dan buruk, tp tanpa alasan, melainkan hanya krn ikut kpd yg salah dan buruk. Ini adalah jalur diambil oleh para pengikut buruk, sbg penumpang kendaraan bergerak ke arah salah.
. . .
Demikian semoga bisa dicerna dan berguna.

KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN

Secara faktual, kita memiliki kendala dlm keteladanan dlm masyarakat kita, krn pd dasarnya menyangkut keteladanan, panutan, atau contoh (precedent, example) ada 4 (empat) kemungkinan perilaku manusia bisa terjadi.
  • Para pemimpin teladan baik (good example leaders).
  • Para pengikut dari para pemimpin teladan baik (followers of good example leaders).
  • Para pemimpin teladan buruk (bad example leaders).
  • Para pengikut dari para pemimpin teladan buruk (followers of bad example leaders)
Tentu yg kita semua inginkan adalah keteladan utk butir 1 dan 2, tp dlm kenyataan dlm masyarakat kita, juga hadir oknum utk keteladanan utk butir 3 dan 4. Sebrp baik atau sebrp buruk keadaan suatu masyarakat atau komunitas bisa menjadi ukuran kasar rasio atau perbandingan antara dua kubu diatas.

Jadi akan senantiasa tetap dibutuhkan pembentukan karakter manusia melalui pendidikan, pelatihan, pencerahan, penyuluhan, agar kebanyakan org bisa memberikan teladan baik, terutama manusia tipe butir 1, krn dlm kenyataan, tak bisa kita pungkiri bahwa, masyarakat kita saat ini mengalami krisis kepemimpinan (leadership) yg patut jadi contoh atau teladan baik.

Dominasi manusia tipe butir 1 dan 2 bisa terjadi dgn sedirinya hanya bila ada kesadaran (conciousness), dan populasinya hanya segelintir, selebihnya dibutuhkan pembentukan melalui proses pengenalan (recognition, mariy'fat), dan bahkan penegakkan atau pemaksaan (enforcement) ketentuan, ketetapan, peraturan, undnag-undang, atau hukum, dan ini jadi satu alasan knp aturan hukum dan manajemen perlu dibuat, dan tentu dengan sanksi setara, shg memiliki kekuatan untuk dipatuhi dan dilaksanakan.

Celakanya, makin banyak peraturan dibuat untuk mengantisipasi, menjadi cermin dan ukuran berapa banyak pelanggaran telah dan mungkin akan terjadi dlm suatu masyarakat di masa kini. Suatu organisasi atau negeri yang kaya akan peraturan, menunjukan betapa bobrok mental, moral, dan perilaku masyarakatnya.
. . .
Semoga berhikmah, berguna dan bisa dicerna.

PEMIMPIN ADALAH IMAM

CARA MEMILIH PEMIMPIN DAN KRITERIA PEMIMPIN
DALAM ANALOGI TERHADAP `IMAAM SHALAAT BERJAMAA`AH

DASAR HUKUM ISLAM TENTANG `IMAAM

SIAPA YANG BOLEH MENJADI `IMAAM?

Tak setiap orang bisa dan boleh menjadi`imaam, karena banyak kriteria dan syarat-syarat yang harus dipenuhi, berkaitan dengan fungsinya sebagai pemimpin orang banyak, menyangkut perihal tugas dan tanggungjawab, hak dan kewajiban, sebagai pengemban `amanah dua arah. Sebaliknya siapa saja boleh jadi ma`mum dengan kriteria dan syarat-syarat yang sangat minim sekedar sebagai alat agar dapat terbentuk masyarakat yang berdisplin, tertib, teratur, dan terkendali.
...
Kata `imaam berasal dari akar kata sama dengan `ummun, berarti uma, mama, induk, biang, ibu (mother); suratu l fatihaati atau surah `al fatihaah, disebut `ummu l qur`aani (induk sang kajian), dan ayat-ayat muhkamaah dalam `al qur`aan disebut `ummu l kitaabi (induk sang kitab) [Q 3:7].

`imaamum, `imaam, berarti pemimpin (leader), ketua (chief), kepala (head), orang yang didepan, yang dimuka; kata-kerjanya `amma - ya`ummu, mengimami, memimpin (to-lead). `imaamatun, imaamah berarti keimaman atau kepemimpinan (leadership). Jadi istilah pemimpin dalam bahasa kita [indonesia], berasal dari istilah `imaam [arab]. Kebalikan `imaam adalah ma`mumum, ma`mum, berarti anggota (member), pengikut (follower), orang yang mengikuti, yang dibelakang. `ummatun, berarti anak-buah, awak (crew) atau rakyat. 
...
Dalam memilih pemimpin, apakah pemimpin negara atau daerah, pemimpin bangsa atau suku, pemimpin masyarakat atau kelompok, maka Islam telah memberikan aturan dan pedoman sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat `Al-Qur`aan, sunnatullaah SWT, berikut contoh penerapannya sebagaimana telah diteladankan oleh nabi Muhammad dalam `As-Sunnah, sunnaturrasuwlullaah saw.

PEMILIHAN IMAAM

`Imaam tak boleh mengangkat dirinya sendiri sebagai `imaam, melainkan atas dasar keputusan kesepakatan hasil pemilihan jamaa'ah atas beberapa orang yang dianggap mampu dan memenuhi kriteria dan syarat-syarat untuk menjadi `imaam bagi mereka. Jadi `imaam harus dipilih dan diangkat secara mufakat. Pemilihan `imaam ini tak harus dilakukan oleh semua orang dalam jamaa'ah, tapi cukup oleh beberapa orang berkemampuan dan berwawasan untuk menentukan, yang dapat mewakili bagian-bagian jamaa'ah.

Diteladankan pada shalaat berjamaa'ah, seseorang tak boleh jadi `imaam di satu masjid tanpa persetujuan jamaa'ah pengurus masjid tersebut, dan juga tak boleh jadi`imaam di satu rumah tanpa perkenan tuan-rumah atau shahiybul bayit.

Sebagaimana ditegaskan Nabi Muhammad rasuwlullaah saw:
laa yahillu li rajulin yyu`wminu bilaahi wa yawmi l `aakhiri `an yya`umma qawmaan `illaa bi `idzni-hi [H:R `Abu Dawuud]
tak dia-hallal seorang-lelakiyang dia-beriman kepada `allaah dan hari`akhir bahwa dia-mengimaami suatu-kaum kecuali dengan idzin-nya [perkenan kaum tersebut].

KRITERIA `IMAAM

Kriteria calon pemimpin perlu dilihat dalam konteks lingkup kepemimpinannya, yaitu sebagai pemimpin apa dan siapa yang akan dipimpin. Sebagai contoh, mungkin kriteria pemilihan `imaam dalam shalat berjamaah, dimana konteksnya adalah shalaat, seperti akan diuraikan berikut, bisa jadi perbandingan. Perihal siapa orang lebih pantas untuk jadi `imaam dalam shalat berjamaa'ah, dibahas dalam hukum fiqih. Meskipun ada beberapa perbedaan dari berbagai madzhab, khususnya madzhab yang empat: hanafiyah, malikiyah, syafi'iyah, hanbaliyah (hanabilah). Tapi pada intinya sama, yaitu terseleksi berdasarkan skala prioritas kriteria ditetapkan, dimana nomor urut prioritas, makin keatas makin utama. Walau dari empat madzhab ada sedikit perbedaan dalam banyaknya kriteria yang ditentukan, tapi pada garis-besar urutannya lebih-kurang sama. Berikut adalah 7 urutan seleksi kriteria pokok dari empat madzhab.

Menurut hadiyts shahih riwayat `Imaam Bukhariy-Musliym, orang yang patut jadi `imam dalam shalaat berjamaa'ah yaitu, yang jika diperbandingkan kepada rerata jamaa'ah yang akan jadi ma`mum, maka:
yang lebih fashih dalam qiraa'ah(pengkajian) atau tilaawah (pembacaan) ayat-ayat `Al-Qur`aan. Jika ada yang sama fashihnya, maka
yang lebih faaqih atau lebih `ahli dalam ilmu fiqih. Jika ada yang setara faaqihnya, maka
yang lebih 'alim dalam hukum shalaat. Jika setara penguasaannya, maka
yang lebih hafal ayat-ayat `Al-Qur`aan. Jika sama hafalnya, maka
yang lebih dulu muslim atau memeluk `islaam. Jika sama berislaamnya, maka
yang lebih dulu hijjrah tinggal disana, pribumi atau tuan-rumah. Jika sama, maka
yang lebih tua usianya (senioritas).

Jika `imaam belum juga terpilih, maka 7 faktor seleksi berikut jadi pertimbangan:
yang lebih 'abdi atau banyak beribadah.
yang lebih taqwa, yaitu yang lebih memelihara diri dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan agama.
yang lebih zaahid, zuhud lebih mendekati urusan`akhirat dan menjauhi urusan dunia.
yang lebih waraa`a, yaitu yang lebih banyak menjauhi masyi`at dan hal-hal yang syubhat.
yang lebih `akhlaq, lebih baik budi-pekerti, tutur-kata dan perilakunya.
yang lebih shilatu r-rahimi, lebih disukai jamaa'ah, atau yang lebih menarik, dan 
yang lebih disegani atau dihormati.

Jika masih belum ada `imaam, maka masih ada 7 faktor lagi:
yang lebih bersih penampilannya.
yang lebih baik suaranya.
yang lebih dulu menikah.
yang lebih dulu punya anak.
yang lebih banyak anaknya.
yang lebih dulu dipersilahkan atau diperkenankan, dan
yang lebih bersedia jadi `imaam.

ATURAN `IMAAM DAN MA`MUM

`Imaam harus selalu berada paling depan dan ma'mum harus selalu berada di bagian belakang `imaam. Pada bentukan shaff, aturannya diurut sebagai berikut:
dzakaarun, rajulun (pria, lelaki-dewasa male, man) 
khuntsaa (banci, waria, lelaki-perempuan) 
binun, `ibnun, walidun (putera, lelaki-kekanak boy)
bintun (puteri, perempuan-kekanak girl), dan 
nisaa`un, `imraatun (wanita, perempuan-dewasa female,woman).

Artinya, pria di depan, wanita dibelakang, dan kekanak di tengah agar terjaga.
...
Pada penentuan `imaam, aturannya diurut sebagai berikut:
dzakaarun atau rajulun (pria, lelaki) mengimaami dzakaarun, dan khuntsaa (banci, waria, wadam, lelaki-perempuan), dan nisaa`un atau `imraatun (wanita, perempuan). Tak bisa sebaliknya, sehingga
khuntsaa mengimaami hanya khuntsaa dan nisaa`un; dan
nisaa`un mengimaami hanya nisaa`un.

Shaff terdepan, tepat di belakang `imaam, harus merupakan barisan orang berkemampuan mendekati kemampuan `imaam. Semakin dekat dengan `imaam, harus semakin mampu orangnya. Karena
jika `imaam lupa, keliru atau salah, baik dalam ucapan bacaan ayat maupun dalam gerakan hitungan raka'at, maka dia harus bisa menegur, mengkoreksi.
jika `imaam bathal lalu harus segera mundur, maka dia harus segera maju menjadi `imaam pengganti dan penerus.
jika seusai shalaat `imaam meminta dia untuk berdo'a, maka dia harus bisa. 

Jadi sebebaiknya kandungan shaaf adalah yang terdepan dan terdekat dengan `imaam. Kualitas ma`mum dalam shaff ini telah diisyaratkan rasuwlullaah saw, untuk shalaat berjamaa'ah dimana ma`muwm terdiri daripara lelaki dan para perempuan, sesuai hadiyts.

ATURAN MA`MUM MENEGUR `IMAAM

Jika `imaam lupa atau keliru, maka ma`mum terdekat harus mengkoreksi `imaam, dengan aturan sebagai berikut.
jika `imaam lupa atau keliru dalam ucapan ayat, maka harus dikoreksi dengan ucapan yang membetulkan, kecuali tak ada ma`mum yang mampu.
jika `imaam lupa atau keliru dalam gerakan raka'at, maka harus dikoreksi dengan ucapan subhaana llaah, tersanjunglah `Allaah [yang tak-pernah lupa atau keliru].
butir (1) dan (2) ini berlaku hanya bila`imaam lelaki dan ma`mum pengkoreksi juga lelaki, atau bila `imaam perempuan dan ma`mum pengkoreksi juga perempuan. Jika`imaam lelaki dan ma`mum pengkoreksi perempuan, maka tak boleh mengkoreksi dengan suara, karena suara perempuan 'awrat bagi lelaki, melainkan dengan isyarat tepukantangan.
...
Semoga bisa dipahami dan bermanfaat.

Over View

PERTUMBUHAN ILMU-ILMU ISLAM DI MADRASAH

(Nana Masrur) Kompetensi Dasar : Mampu Menguraikan Pertumbuhan Ilmu-Ilmu Islam di Madrasah Indikator : Madrasah dan Perkemb...